Ketukan Misteri

Karya : Firman Ramadhani

Jam dinding di ruang keluarga tepat menunjukan pukul 11 malam. Hujan semakin deras. Kupindahkan channel televisiku. Tak ada acara yang menarik. Lalu ku matikan. Samar – samar terdengar, tok…tok…tok

open-door-dark-design-decorating-10

“siapa gerangan orang yang hendak bertamu malam-malam begini?” tanyaku dalam hati. Sempat terpikir untuk tidak mengindahkan ketukan di pintu tersebut karena takut orang dibalik pintu berniat buruk, ditambah aku hanya sendirian dirumah. Tetapi, karena mungkin saja orang yang mengetuk tersebut adalah orang tua ku, ku beranikan diri untuk membukanya.

Terdengar deritan engsel pintu saat aku membuka pintu. Kreettttt………….

“Hah, tidak ada orang ?” tanyaku dengan nada mengeluh. brak, cekrek. Kututup kembali pintu tersebut dan ku kunci.

Kejadian tadi membuat bulu kudukku merinding pikiran buruk berdatagan. Kuputuskan untuk menyibukan diri. Bukan dengan main game atau menonton tv. Tetapi, makan! Ya makan. Setiap kali pikiran buruk datang. Makanan selalu membuatnya jadi lebih baik. Mungkin karena itulah badanku dipenuhi timbunan lemak.

Segera kubuka lemari es setibanya di dapur,

“Apa! Tidak ada makanan tersisa!”

Tanpa ada makanan, semakin gelisahlah jadinya. Pikiranku mengawang-ngawang hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Dak! Terdengar suara bantingan pintu. Kuhampiri sumber suara tersebut.

“Ada apa ini, barusan kan aku sudah kunci.” Angina dingin berhembus kedalam rumah. Membuat bulu kudukku berdiri. Kuperiksa gagang pintu.

“Tidak ada yang rusak, semua ada ditempat semestinya.”

Dak..dak…dak. kembali suara aneh terdengar. Kali ini suara langkah kaki dari lantai atas. Suaranya begitu jelas, membuatku tak ragu lagi bahwa itu memang suara langkah kaki.

Kunaiki tangga dengan perlahan, kakiku tak kuat menopang tubuh gempalku jika berjalan cepat ditangga. Diujung tangga, ku perhatikan ujung lorong tempat sumber langkah suara tadi. Dan tidak ada apa-apa.

Karena sudah dilantai atas, kuputuskan untuk masuk kekamar. Kubuka pintu kamar lalu langsung kutidurkan tubuh dengan posisi tengkurap.

Kiiittttttt. Pintu kamar di belakangku berdenyit, seperti ada yang menutup. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri lagi, kuberanikan untuk membalikan badan dan melihat ke arah pintu. Dan saat ku berbalik, tiba-tiba semua menjadi gelap, aku pingsan.

“Sam bangun! Sudah pukul sepuluh pagi!”

“Hah mah, udah pulang?” tanyaku kepada ibuku yang berada di ambang pintu. “pulang dari mana, ibu dari kemarin dirumah. Sekarang bangun, udah siang.” Jawabnya sambil melangkahkan kaki menuruni tangga.

Tiba-tiba aku tersadar, hal yang aku alami adalah mimpi. Mulai dari ketukan pintu hingga sesuatu diujung ruangan kamarku. Sesuatu itu sangat menyeramkan hingga membuat otakku syok dan memutuskan untuk mematikan fungsi tubuhku sementara.

Ia bertubuh besar, penuh bulu dengan mata merah menyala dan taring mencuat dari bibir hitam legamnya. Dia menjulurkan sesuatu kepadaku saat tiba-tiba aku tak sadarkan diri.

“syukurlah hanya mimpi.” Pikirku, kuputuskan untuk berdiri dan berjalan menuju ambang pintu, saat sesuatu menghentikanku. Sebuah kain putih dengan bercak merah tergeletak di lantai. Benda itu adalah benda yang tidak asing. Benda yang dijulurkan makhluk itu didalam mimpiku.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s