Perjuangan yang tak terlihat

 

9 Mei 2016 adalah hari yang sangat mendebarkan dalam kehidupanku, perjuangan tiga tahun ditentukan hari itu. Ya benar, hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SNMPTN. Tentu saja saya sangat berharap banyak agar dapat lulus dalam jalur ini, karena jika diterima selain tidak perlu mendaftar jalur tes, saya juga akan memiliki banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya, salah satunya keinginan untuk belajar berbahasa inggris di kampung pare, kediri. ( cek post sebelumnya untuk cerita di kampung inggris pare, kediri.)

Jam menunjukan pukul 13.00 WIB, tanda bahwa pengumuman SNMPTN sudah bisa diakses. Jantung semakin berdebar dan terpikir untuk membuka pengumuman di lain waktu, namun toh gaakan berubah. Dibukalah akhirnya web pengumuman snmptn, degdegan rasanya haha. Setelah memasukan nomor peserta SNMPTN dan tanggal lahir, akhirnyaQuickMemo+_2016-05-10-09-42-29

Saya dinyatakan lulus FTMD ITB, pilihan pertama, Alhamdulilaaaaah. Orangtua terlihat sangat bahagia mendengar kabar baik ini, tidak lupa sujud syukur saya lakukan, berterimakasih kepada Allah SWT yang mempercepat langkah cita-cita saya. Senang bukan main, tiga tahun di bangku SMA tidak sia-sia, teringat kembali awal mula masuk SMAN 5 Bandung.

Saat SMP saya suka membayangkan sekolah di SMA favorit di Kota Bandung, ya tentu saja, SMA Belitung, Kalau bukan SMAN 3 Bandung, ya SMAN 5 Bandung tentunya. Di SMP asal saya, yaitu SMPN 1 Cimahi, alumni yang berada di SMA Belitung terhitung sedikit, paling banyak belasan satu angkatannya di kedua sekolah itu. Tapi alhamdulilah, saya masuk SMAN 5 Bandung dengan tiga teman saya yang lainnya.

Awal masuk SMAN 5 Bandung, saya bulatkan tekad untuk bisa masuk ITB kelak ketika lulus, hal ini mungkin karena pengaruh alumni SMP saya, yang waktu itu sempat berkunjung dan menceritakan kesibukannya di FTTM ITB dengan sangat menarik. Mengenai lingkungannya, organisasinya, belajarnya, dan tentunya salary-nya ketika lulus haha.

Untuk itulah, saya berusaha keras dari semester satu di SMA karena saya tahu, teman-teman saya di SMAN 5 Bandung juga adalah orang-orang yang pintar. Namun mungkin belum cukup keras, atau perjuangannya kurang strategi, saya masih mendapat ranking belasan saat semester satu (kalau tidak salah). Melihat hasil semester satu, saya jadi sedikit tertutup terhadap ekstrakulikuler dan kegiatan lainnya diluar pelajaran sekolah, karena mengingat kembali cita-cita saya untuk masuk ITB.

Semester dua saya lalui, alhamdulillah mendapat peningkatan ranking menjadi masuk ke 5 besar dikelas (kalau tidak salah). Tapi dibalik kesengan saya mendapat peningkatan rangking, ada sesuatu yang terasa hambar. Jika ditanya apakah saya senang ranking saya meningkat, tentu saja, Tapi saya merasa keberhasilan ini ada kekurangannya. Setelah saya berfikir dalam, ternyata kekurangannya ada pada pilihan saya untuk menutup diri dan fokus hanya pada jalur akademik sekolah.

Saat SMP, saya sangat aktif dalam berpramuka, sering ikut lomba sana-sini dan terkadang memakan waktu belajar dirumah, tapi saya merasa senang dan begitu pula hasil rapor saya mengalami peningkatan. Saya ingin seperti dulu, aktif diluar sekolah, tetapi tetap mendapat akademik yang baik di sekolah. Sulit dan lelah memang, tapi worth it!

Untuk itulah saat semester tiga saya perlahan dan secara bertahap mulai membuka diri. Salah satunya saya bersedia ketika ditunjuk menjadi calon ketua panitia kurban sekolah, yang akhirnya terpilih menjadi ketua panitia kurban sekolah. perlahan , ternyata saya juga mendapat amanah menjadi calon ketua DKM Nurul Khomsah, Rohis SMAN 5 Bandung, dan akhirnya terpilih. Sempat ingin mengundurkan diri ketika masih menjadi calon, tetapi saya ingat kembali kehambaran yang saya dapatkan ketika semester dua, dan akhirnya saya beranikan diri untuk lanjut, “amanah tidak akan salah memilih tuannya”, saat menjadi ketua kurban, dan dilanjut ketua DKM NK inilah saya merasakan beratnya perjuangan mempertahankan prestasi akademik sekaligus kepentingan organisasi.

Mungkin banyak orang menilai bahwa saya adalah anak yang pintar, ini kebohongan banget, mungkin diantara para pembaca ada teman kelas ataupun sekolah saya, kalau kalian mau tahu, saya termasuk anak yang sulit menerima dan memahami pelajaran saat kali pertama, mungkin ada beberapa orang yang ketika diajarkan disekolah langsung mengerti dan mampu mengerjakan soal-soal, saya tidak, saya harus menghabiskan waktu di rumah untuk sekedar kembali memahami materi yang diberikan, setelah paham saya harus coba mengaplikasikannya ke soal, kalau tidak akan lupa. Ya saya juga termasuk manusia yang memiliki memori “biasa aja” haha. hal inilah yang memberatkan saya ketika memegang amanah sekaligus harus menjaga prestasi akademik.

DKM NK adalah salah satu ekskul yang sangat dipercaya oleh sekolah, oleh karena itu seringkali sekolah memberi banyak amanah acara kepada DKM NK. Salah satunya kepramukaan.”loh kok DKM megang pramuka ?” nah bingungkan? yaitulah kalau sekolah udah percaya sama suatu ekskul, karena tidak mau mengecewakan sekolah, ya saya usahakan bersama teman-teman DKM NK lainnya agar terlaksana.

Berat, benar-benar berat. Ketika teman-teman saya mengajak untuk hangout dan main bareng, saya harus tolak karena harus ikut kegiatan organisasi atau memikirkan keperluan organisasi kedepannya, ketika keluarga saya pergi keluar untuk acara keluarga, saya dengan berat hati harus menolak karena ada pelajaran atau tugas sekolah yang harus saya kejar.Beberapa kali saya sempat berpikir, “jika saya bukan ketua DKM NK, mungkin saya akan memiliki banyak waktu luang untuk bersantai, dan bisa lebih fokus belajar.” Tapi pikiran ini saya alihkan dengan, “Insyaallah, akhirnya akan baik.”

Semester tiga saya lalui, dan ternyata saya mendapat ranking satu dikelas dan juara dua umum. Masyaallah, senang bukan main saya mendapat prestasi akademik ini, terlebih dengan kesibukan lainnya yang saya miliki. Saya jadi yakin, kegiatan diluar sekolah bukanlah halangan kalau kita mampu mengatur waktunya dengan sebaik-baiknya.

Memasuki semester empat ternyata saya diminta oleh sahabat saya untuk mendapat amanah lagi, menjadi pengurus osis sekbid tiga, sahabat saya sebagai ketua sekbid tiga dan saya sebagai wakilnya. Sempat beberapakali menolak, karena saya juga sedang memegang amanah lainnya, namun karena ia adalah sahabat saya, dan saya juga sudah mulai terbiasa dengan kegiatan ekskul saya, maka saya memutuskan untuk meningkatkan tingkat kesulitannya haha, saya beranikan diri untuk mengambil amanah tersebut.

Hasil akademik semester empat sudah diumumkan, saya tetap mendapat ranking satu dikelas tetapi menjadi juara 9 umum diangkatan, sempat kecewa karena takut akan mempengaruhi penilaian jalur undangan kelak dan sempat juga merasa hal ini karena kegiatan diluar sekolah yang terlalu banyak, tapi saya harus tetap berusaha untuk bersyukur, toh gaakan bisa dirubah lagi. Semester lima, saya mulai menanggalkan satu persatu amanah yang saya emban, selain karena semester lima ini “katanya” adalah faktor yang sangat kuat dalam penilaian undangan, kebijakan sekolah juga, siswa kelas 12 harus fokus ke akademik dan persiapan UN.

Hasil semester lima keluar, dan saya tidak masuk 10 besar ranking angkatan, saya mendapat posisi ke 15. Sempat bingung, padahal waktu luang saya terhitung banyak saat kelas 12, tapi kenapa menurun? dari situlah saya menjadi semakin yakin kalau kesibukan diluar sekolah tidak bisa dijadikan alasan penurunan nilai akademik. dan akhirnya saya diterima di FTMD ITB lewat jalur SNMPTN, seperti yang saya idam-idamkan, Alhamdulillah.

Sekian, semoga bisa menginspirasi para aktivis yang mulai goyah karena tekanan akademik haha, terus semangat menggapai cita-cita ya, see you on top!

*Lewat post ini juga saya ingin berterimakasih kepada :

  1. Teman-teman kelas saya yang menemani saya selama tiga tahun disekolah, yang membuat lingkungan belajar di sekolah menjadi nyaman dan saya mampu menjadi seperti sekarang.
  2. Teman-teman ekskul DKM NK, terimakasih atas perjuangan selama satu tahun kepengurusan kita, terimakasih sudah mau men-support saya disaat saya down karena kecapekan, terimakasih sudah mau berjuang untuk cita-cita organisasi kita. Tidak ada yang kurang berkontribusi, semuanya berkontribusi sesuai kemamuannya masing-masing, Jazzakumullahu Khair Katsiran!
  3. Teman-teman osis XLI yang mau mengajarkan saya berorganisasi yang sebenarnya haha.
  4. Guru-guru SMAN 5 Bandung, yang senantiasa membimbing dan mengajarkan hal-hal baru setiap harinya, memberikan masukan dan cerita yang membakar semangat saya untuk semakin berusaha mendapatkan ITB.
  5. Orangtua saya dan keluarga, yang memberi semangat, finansial, dan arahan bagi kehidupan dunia dan akhirat saya.
  6. Dan semua orang yang turut berkontribusi yang tidak bisa saya sebut satu-satu.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s