Pak Tua dan Pikirannya

Ditulis oleh Firman Ramadhani

                 Pak Tua asik mengambil sampah-sampah plastik dengan terbungkuk sambil sesekali menimang-nimang karung kusam di Pundaknya, apakah cukup untuk ditukar beras dan lauk-pauk seadanya.  Jika mendapat sepuluh ribu rupiah, tentulah sangat bersyukur ia, enam ribu untuk membeli beras, dua ribu untuk lauk pauk dan sisanya akan ia masukan ke celengan ayamnya. Ia ingin sekali berangkat ke tanah suci dengan tabungannya.Namun Seringkali ia hanya dapat membeli beras dan garam dari hasil memulungnya, bahkan jika kurang dari takaran, pengepul sampah enggan untuk membeli rongsokan yang ia kumpulkan seharian, sehingga harus disimpan dan digabung dengan rongsokan keesokan harinya.

             Dahulu semasa muda, Pak Tua adalah pemulung yang hebat. Dua puluh sampai tiga puluh kilometer setiap harinya sanggup ia lewati dengan mudah. Ya, Saat itu ia memang sangat bersemangat. Saking semangatnya, ia mau meninggalkan kehidupan desanya yang tentram untuk mengadu nasib di kota, hanya dengan berbekal ijazah SD dan keterampilan berkebun seadanya. Sesampainya di Kota, ketar-ketir mencari kerjaan yang tak kunjung datang, akhirnya ia memilih untuk memulung,

“yang penting halal.” Pikirnya.

Walaupun hanya lulusan SD, Pengalaman hidup di Kota telah membuatnya menjadi orang yang kritis, namun pembelajaran dapat didapat dari siapapun, bukan? Tidak peduli latar belakang dan sifat orang tersebut pasti ada hal yang dapat dipelajari. Ia sering mengkritisi kehidupan kota yang glamor, hilir-mudik mobil-mobil mewah, mall-mall yang selalu ramai, café-café yang penuh anak muda buka dua puluh empat jam, dan diskotik-diskotik yang gemerlap di gelapnya malam.

“kasian sekali anak muda sekarang, terbelenggu kenikmatan sementara.” Ucapnya dalam hati.

Pernah ia diwawancarai oleh seorang pelajar SMA, Untuk tugas sekolah ucap pelajar tersebut. Tentulah Pak Tua tak enak hati menolak permintaan anak itu.

“Pak menurut bapak bagaimana kehidupan di Kota Ini?” tanya pelajar tersebut.

“Kehidupannya berbeda jauh dengan di Desa dek, jauh dari kehidupan sederhana di Desa.”

“Kalau anak mudanya gimana pak?”

“Jujur bapak kasian sama anak muda di Kota, Disini anak mudanya seperti terperangkap dengan kehidupan sementara, menampilkan harta orangtua agar tidak dipandang sebelah mata. Anak muda pikir mereka tidak punya pilihan, kehidupan sosial memaksa mereka untuk seperti itu, padahal selalu ada pilihan.”

“Pesan untuk Anak Muda seperti saya pak?”

“Manfaatkan masa muda sebaik-baiknya nak, jangan sampai seperti bapak, jangan terjebak dengan kenyamanan hidup mewah dibawah naungan orangtua, belajar sederhana, kaget nanti saat waktunya lepas dari orangtua.”

Selesai wawancara, ia segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, memulung , sambil menolak uang yang disodorkan remaja tersebut. Tersenyum pria tua tersebut bersyukur,

“semoga pelajar tersebut dapat membawa perubahan.” Doanya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s