Si Awal dan Akhir

     Penulis : Firman Ramadhani

“Aku tidak bisa diciptakan maupun dilenyapkan!” ungkapnya.

“Hanya berubah bentuk!”

Seumpama botol yang terbawa ombak lalu terdampar di bibir pantai, sulit untuk mengetahui asal mulanya. Ia berada di awal dan di akhir, tidak ada seorangpun dapat menyanggahnya.

“Aku telah melihat segalanya, dari pertama dan terakhir” ungkapnya begitu bangga.

Di suatu masa, pernah ia melihat makhluk yang begitu dipercaya oleh sesamanya. Selalu memakai pakaian yang harganya sudah pasti melebihi harga dirinya. Makhluk itu juga memakai perhiasan yang berlipat-lipat harganya dari pakaiannya yang sudah terhitung sangat mahal.

Saat kutanya bagaimana makhluk itu bisa seperti itu, ia hanya menjawab.

“Oh, dia unik dibandingkan sesamanya” jawabnya.

“Yang lain hanya memakan apa yang ditakdirkan untuk ia makan, Nasi dan lauk pauknya. Sedangkan ia biasa memakan jembatan, bus, pesawat dan fasilitas umum lainnya! Dan semua itu ia dapatkan dengan mudah karena benda yang menempel di pundaknya.”

Pernah juga dimasa yang sama, ia melihat makhluk sejenis yang berjalan dengan  satu kaki dan kaki yang lain terbalut kain berwarna ke merah-merahan yang awalnya putih.

“Dia berjalan dengan tertatih sambil menadahkan telapak tangan keatas didalam keramaian kaumnya. Sesekali, ada yang menaruh logam-logam bulat dan terkadang lembaran-lembaran kertas ditangannya.”

Saat aku bertanya apa yang dilakukan makhluk itu, ia menjawab

“Mencari kemewahan! Oh ya, saat malam tiba , ia membuka balutan kainya dan kembali berjalan dengan kedua kakinya tanpa tertatih dan kainnya beraroma manis, Kecap”

Masih dimasa yang sama, ia mendengar obrolan makhluk yang serupa ketika sedang asik berjalan-jalan dilangit.

“Kok belum pulang pah? Sudah malam.”

“Nanti lagi, ini sedang rapat mah.”

Saat ia hampiri, makhluk tersebut memang sedang rapat.

Rapat berdua dengan lawan jenis yang umurnya 15 tahun lebih muda darinya.

Tetap dimasa yang sama, ia pernah melihat beberapa makhluk yang mirip. Mereka bangun sebelum cahaya mendaki di ufuk timur, dan selalu berharap agar dapat pulang mendahului cahaya yang akan tertidur di barat .

“Mereka melakukan itu lima hari dalam seminggu dan selalu membawa kantung berisi balok-balok ilmu yang terasa memeras pundak saat diangkat.”

Saat kutanya mengapa mereka melakukan itu, ia menjawab

“Haha, begitulah yang harus mereka lakukan agar tidak dipandang sebelah mata oleh lingkungannya. Dan kau tahu, pendahulu-pendahulu mereka yang membuat kewajiban itu. Padahal saat umur pendahulu mereka masih seumuran mereka, tidak ada aturan seperti itu!”

Selalu percakapan itu terngiang-ngiang dipikiranku. Satu pertanyaan muncul dibenakku saat tiba-tiba terdengar suara.

“Itu adalah masa yang kau jalani sekarang.”

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s