Antara Paradigma Dosen & Kaka Tingkat

“Fokus TPB dulu aja” – Dosen

“Saat TPB, jangan cuman fokus di akademik aja, cobain unit atau kegiatan kemahasiswaan yang ada” – Kating

“Buat mahasiswa yang masih TPB, boleh ikut unit, cuman jangan terlalu banyak, satu sudah cukup, selamatkan dulu nilai TPBnya.” – Dosen

“Ini saat kalian punya waktu buat meng-explore ITB, jangan sia-siain, coba semua sudut yang ada di ITB!” – Kating

Statements diatas yang saling kontradiktif, jujur membuat saya bingung, kalau bahasa abg-nya bikin galau. Mahasiswa TPB dibuat bingung, Ngikut dosen apa kaka tingkat? tentu saja kebanyakan Maba bakal condong ke dosen, toh masuk ITB yang utama untuk kuliah, ataupun ada juga yang ngikut kating, tapi yuk kita telaah bersama-sama!

Dosen, Staf pengajar yang memiliki pengalaman belasan bahkan puluhan tahun mendidik mahasiswa dari berbagai generasi, Dosen mengajarkan Hardskill yang sangat compatible dengan fakultas dan jurusan yang kita masuki. Tentu saja, kalau diposisikan sebagai pemberi masukan kepada Maba, Dosen memiliki posisi yang kuat untuk diikuti, tapi yuk kita pikirkan pertanyaan-pertanyaan ini;

“Apa pendapat dosen ini menggunakan faktor-faktor lainnya yang tak kalah penting selain akademis untuk menggapai mahasiswa yang berdaya saing tinggi?”

Kalau kita mencoba menginterpretasi pertanyaan ini dan mencoba menjawabnya, tentu saja kita akan condong ke jawaban tidak. Sebagai mahasiswa TPB, tentu saja kita paham bahwa tahap TPB ini kita memiliki waktu yang lumayan senggang untuk melakukan aktivitas lainnya selain mempelajari pelajaran yang ada di SKS. Karena saat ini, jika dibandingkan setelah TPB yang dimana SKS ada sekitar 20 keatas, Mahasiswa TPB hanya harus menjalani 18 SKS yang ada. Apakah dosen mempertimbangkan hal ini? anda sendiri yang dapat menjawabnya. Sekali lagi, topik yang saya bahas adalah pernyataan-pernyataan diawal tadi dan kalau keluar dari koridor tersebut, mungkin saja jawaban saya akan berbeda.

“Apa Dosen benar-benar tahu keadaan generasi kita saat ini?”

Bisa iya dan bisa tidak, tapi yang saya tahu pasti, orang terbaik yang mengetahui hal ini adalah kita sendiri. Kita yang menjalani dan kita yang merasakan. Apa ini berarti pendapat kita sendiri lebih dapat dipercaya ketimbang yang berasal dari dosen? belum tentu, hal ini tergantung individu yang bersangkutan, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Dari sisi kita, kita yang menjalani dan merasakan namun jangan lupa, dosen memiliki pengalaman yang merupakan nilai yang sangat tinggi.

“Berarti kating lebih tahu generasi kita, iyakan?”

Menurut saya, betul. Karena kating memiliki kedekatan generasi dengan generasi kita ketimbang dosen. Tapi apa ini berarti pendapat kating lebih bernilai ketimbang dosen? tentu saja tidak, kedua pendapat memiliki kelebihan dan kekurangannya, yuk kita rangkum;

Kelebihan Dosen:

  1. Pengalaman mengajar dan mendidik perpuluh-puluh tahun
  2. Dapat melihat dan memperkirakan masa depan dengan lebih akurat ketimbang kating karena pengalamannya tersebut
  3. Memiliki akses data yang lebih akurat dan luas ketimbang kating

Kelebihan Kating:

  1. Lebih dapat merasakan apa yang generasi kita rasakan, karena generasinya berdekatan
  2. Pendapatnya biasanya tidak hanya berdasarkan faktor akademik tapi faktor lainnya, salah satunya waktu yang tersedia, karena keadaan kating saat masanya tidak terlalu berbeda dengan kita
  3. Paham betul apa yang generasi kita inginkan

Kekurangan Dosen:

  1. Fokus terbagi ke berbagai generasi, sehingga terkadang men-generalisasi, menganggap bahwa setiap generasi sama
  2. Perbedaan generasi jauh, sehingga terkadang terdapat perbedaan kondisi yang jauh pula
  3. Pertimbangan faktor akademis saja

Kekurangan Kating:

  1. Kurang pengalaman, karena cuman berbeda beberapa tahun, sehingga untuk impact jangka panjang belum terlalu mengetahui
  2. Kurangnya pengetahuan mengenai treatment berbagai kasus yang berbeda, karena kurangnya pengalaman tadi
  3. Akses data yang kurang, terkadang bergerak berdasarkan asumsi saja

Melihat dan memahami hal-hal ini bersama, saya kembalikan kepada masing-masing orang bagaimana akan bereaksi. Pastinya kita harus bisa memilah mana yang relevan dan tidak, karena benar dan salah terkadang sulit dipisahkan dalam suatu hal, atau bahkan telah berpadu.

 

Firman Ramadhani

(16916038)

Cimahi

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s